Saturday, February 15, 2025

Maman Suryaman, Transformasi dari Pemalu ke Inspirator Training Dunia Kesehatan dan Kecantikan

Ketika kita menyampaikan afirmasi dan mimpi-mimpi ke teman atau saudara di sekitar kita, terkadang hanya menjadi bahan candaan bahkan cemoohan. Saat itulah mental dan keyakinan kita diuji oleh orang-orang terdekat. 

Hidup adalah perjalanan yang penuh tantangan, dan kisah ini adalah bukti nyata bagaimana ketekunan, keberanian, dan afirmasi positif dapat mengubah keterbatasan seseorang menjadi peluang besar. Maman Suryaman telah membuktikan dalam perjalanan hidupnya. 

Saat menjadi mahasiswa, Maman, demikian sapaan akrabnya, harus berpeluh keringat sambil menjadi marketing sebuah asuransi. Semua itu ia lakukan karena tuntutan hidup. Kondisi usaha orangtuanya yang bangkrut dengan segudang utang ditambah sang ayah yang sakit-sakitan membuatnya harus mencari cara bisa mendapatkan uang. 

Usai lulus Gontor tahun 2008, Maman mengabdi mengajar di Pesantren Adlaniyah di Pasaman Barat. Selama mengabdi, ia pernah menjadi utusan sebagai Uda dan Uni, bahkan ia pernah ikut dalam lomba Syarhil Quran se-Sumatera Barat. Meski gagal tidak juara, ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Maman. 

Usai menyelesaikan tugas di Gontor, Maman melanjutkan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Manajemen Internasional. Rutinitasnya usai dari kampus, ia gunakan waktu untuk bekerja menjadi marketing asuransi. Bagi Maman, memprospek calon klien untuk ikut asuransi dengan cara bicara yang meyakinkan adalah pekerjaan berat. 

Maman mengakui, ia termasuk yang takut dan minder berbicara di depan orang. "Saya orangnya tidak percaya diri, pernah waktu nyantri di Gontor saat muhadharah atau amaliah tadris di depan santri, pakaian saya basah karena keringat dingin," kisahnya kepada Majalah Gontor saat ditemui di kediamannya yang asri di wilayah Depok.

Awal ikut marketing ini, ia butuh sampai tiga hari untuk meyakinkan diri bisa berbicara meyakinkan kepada calon klien. "Sehari itu pernah tidak promosi sama sekali karena tidak berani bicara. Saat pulang menyesal kenapa tidak mencoba. Akhirnya, saya memberanikan diri karena sampai kapan terus begini," ujar lelaki kelahiran 07 November 1989 ini. 

Merintis Bisnis dan Belajar dari Kegagalan 

Tahun 2013 menjadi awal perjalanan dalam dunia bisnisnya. Modal kecil dari hasil bekerja di asuransi, ia digunakan untuk membuka agen jasa pengiriman di Karawaci. Sayangnya, usaha ini hanya bertahan dua bulan karena kurangnya pelanggan. Padahal, ia sudah sewa tempat selama 6 bulan. 

Tak menyerah, Founder LKP Satu Visi Manajemen ini melanjutkan jual beli handphone bekas. Strateginya sederhana, membeli barang di platform daring dan menjualnya kembali. Suatu hari, ada teman mengajak ke rumah guru SMP yang jual beli laptop secara kredit. Akhirnya, Maman ambil laptop seharga Rp 2,5 juta dengan cara dicicil selama satu tahun. 

Namun, Maman justru menjualnya Rp 1,8 juta secara tunai. Tujuannya biar dapat uang untuk diputar kembali. Secara hitung-hitungan, tentu rugi. "Saya berpikir bukan untuk mendapat keuntungan, tapi bisa bertahan hidup dari uang tunai tersebut. Saya sisihkan 500.000 buat cicilan selama dua bulan," ungkapnya. 

Di saat ia mencari-cari peluang usaha, ada salah satu kenalan menginformasikan ada sekolah baru butuh guru lulusan Gontor. Akhirnya, Maman mendaftar. Alhasil, ia diterima dan sekaligus menjadi marketing untuk mencari siswa baru. "Alhamdulillah, gaji jadi guru bisa buat bayar cicilan dan kontrakan," jelasnya. 

Sebelumnya, Maman juga pernah ikut kursus sulap untuk hiburan. Suatu hari, ia mencoba komunikasi dengan sang guru sulapnya saat menjadi trainer di Malaysia. Dari awalnya iseng minta diajak, ternyata sang guru merespons positif untuk membuat paspor. Maman pun akhirnya kerap diajak menyertai dalam training hipnoterapi di Malaysia. 

Dari sinilah, Maman banyak belajar bagaimana membuat event kegiatan seminar dan training di Malaysia. Sang guru bercerita kalau mereka membuat event ini hanya seorang diri, namun kelasnya internasional. Maman pun berpikir kenapa tidak mencoba mengadakan di Indonesia. 

Dunia Pelatihan: Menemukan Jalan Baru 

Setelah sempat menjadi asisten dalam berbagai event besar tentang hipnoterapi, keberanian muncul untuk membuka pelatihan sendiri. Tahun 2014, ia mencoba konsep dan sosialisasikan ke teman-temannya untuk ikut pelatihan hipnoterapi. Ternyata minat mereka besar, ia berhasil menggelar pelatihan perdana dengan jumlah peserta 30 orang. 

Pelatihan berikutnya menyasar para wali murid atau orangtua dengan konsep pelatihan hipnoparenting, hasilnya pun cukup menggembirakan. Kemudian pada Oktober 2014, Maman bersama alumni Mantingan yang pernah mengabdi di Pasaman membuka kelas pelatihan Baby Spa. 

Melihat peluang pelatihan Baby Spa besar, ia pun membuka kelas di Jakarta dan ternyata mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, termasuk bidan dan perawat. Kesuksesan ini memungkinkan perluasan layanan pelatihan hingga mencakup kecantikan dan estetika dengan brand Esthetic Skin,care tahun 2018. 

Dari kegiatan training ini, tahun 2015 akhirnya Maman bisa membeli mobil pertama Avanza Velos. Selain buat operasional, kendaraan ia pakai ngegrab karena kegiatan masih berlangsung sebulan sekali. "Waktu itu usaha grab masih bagus karena belum banyak seperti sekarang," kisahnya. 

Di luar dugaan, pelatihan Baby Spa meledak di tahun 2015. Pesertanya terus bertambah banyak, bahkan bisa diselenggarakan setiap pekan. Pesertanya datang dari berbagai kalangan, mulai dari para bidan, perawat, hingga masyarakat umum yang rata-rata adalah kaum perempuan. 

Ketika pandemi Covid-19, pelatihan harus dihentikan sementara. Namun, masa sulit ini digunakan untuk merencanakan strategi baru, termasuk mencicil ruko untuk kegiatan pelatihan. Ketika kegiatan kembali dimulai dengan protokol kesehatan yang ketat, antusiasme peserta justru meningkat dan melampaui ekspektasi. 

Bahkan, ia bisa mengadakan event di luar kota, seperti di Surabaya dan Bali. "Biasanya satu kelas 20-30, saat pandemi malah bisa sampai 50 peserta. Pernah buat pelatihan di Bandung, dua hari sebelum acara digagalkan karena lockdown lagi. Peserta dari luar Jawa terpaksa gagal, tapi mereka bisa refund," ujarnya. 

Saat ini ribuan alumni dari berbagai penjuru daerah di Indonesia telah mengikuti pelatihan yang diadakan Satu Visi Corp. Bahkan banyak dari mereka berhasil membuka usaha sendiri. "Alhamdulillah alumni pelatihan kami sudah sekitar 7.000, dan mereka bebas konsultasi gratis seumur hidup, kita bangun komunikasi dengan para alumni," ungkapnya. 

Namun, perjalanan ini tidak hanya tentang kesuksesan pribadi. Setiap langkah yang diambil selalu diiringi dengan semangat untuk berbagi inspirasi kepada orang lain. Pesan yang selalu ia sampaikan adalah: mulailah dari apa yang dimiliki, jangan takut gagal, dan bangun hubungan dengan orang lain berdasarkan kepercayaan. 

Perjalanan ini adalah bukti bahwa setiap rintangan bisa dihadapi dengan ketekunan, keberanian, dan doa. Dari Pondok Gontor hingga menjadi pengusaha sukses di bidang training kecantikan dan estetika, semua dimulai dari mimpi besar dan langkah-langkah kecil yang diambil dengan penuh keyakinan. 

"Bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis atau mengubah hidup, ingatlah: kegagalan adalah bagian dari proses belajar, dan setiap langkah kecil adalah batu loncatan menuju kesuksesan besar. Jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran, dan jangan pernah berhenti bermimpi," tuturnya. FATHURROJI NK 

Disalin dari: Majalah Gontor, Sya’ban 1446H/ Februari 2025

No comments:

Post a Comment